O-News Sport


KAYUAGUNG oganpost.com-Babak kualifikasi zona daerah Kabupaten OKI tuan rumah pialah soeratin u 15 yang akan diikuti 5 tim kabupaten di sumsel yang akan di gelar dilapangan sepak bolah segi tiga emas kayuagung selasa(22/10/2019) begitu dikatakan ketua panitia pelaksana kegiatan Jumadi kepada wartawan minggu(20/10/2019)

Lanjut dia kualifikasi zona daerah piala soeratin 2019 di OKI rencananya akan dibuka langsung oleh ketua Koni Kabupatwn OKI Refli,"Zona daerah di OKI ini seyoknya ada 5 tim peserta diantaranya Kabupatem Muba,Musi Rawas,Lahat,Ogan Ilir dan Kabupaten OKI sebagai tuan rumah namun sampai saat ini yang sudah konfirmasi untuk hadir itu Kabupaten Lahat dan Ogan Ilir,untuk 2 Kabupaten lain belum ada kejelasan mau ikut serta atau tidak,"ujarnya.

Dikatakan dia terkait ikut atau tidaknya Kabupaten yang belum konfirmasi sesuai jadwal kegiatan akan tetap di buka pada waktu yang telah ditentukan,"Tim yang juara zona akan mewakili zona daerah untuk berlaga di piala soeratin tingkat Sumsel yang insaallah akan di gelar dipalembang pada november tahun ini juga,tentu kita berharap tim OKI dapat lolos di kualipikasi zona daerah sehingga dapat berlaga di piala soeratin tingkat Sumsel,"tuturnya.

Sambung dia piala soeratin tahun 2018 tingkat Sumsel Kabupatan OKI raih juara 2,"Ya tim kita termasuk tim yang diperhitungkan mudah-mudahan saja kita bisa lolos ke Sumsel dan bisa juara ditingkat Sumsel,tentunya kalau kita juara akan mewakili Sumsel di piala soeratin tingkat Nadional,ini harapan kita,"ungkap Jumadi yang juga pelatih tim porprov sepak bola OKI ini.(ziz)





KAYUAGUNG oganpost.com-Kebakaran Hutan dan Lahan di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan saat ini masih terjadi. Dampaknya polusi udara dengan jarak pandang yang sangat terbatas, hingga terganggunya kesehatan masyarakat. 

Berbagai usaha dilakukan pemerintah untuk mencegah dan memadamkan titik api serta tak sedikit pula relawan yang turut membantu untuk menangani masalah kebakaran hutan dan lahan.

Kamis, (17/10) kebakaran lahan juga terjadi di Lebak Nyale Desa Perigi Talang Nangka Kecamatan Pangkalan Lampam Kabupaten OKI. Pemandangan tak biasa tampak ketika beberapa wanita yang tergabung dalam masyarakat peduli api (MPA) bersama satgas terkait terlihat sangat sigap memadamkan api yang melahap lahan gambut diwilayah itu. 

Mereka Ramitha (20), Rika (29) relawan masyarakat peduli api (MPA) setempat. Tidak terbesit bagi perempuan sebaya mereka untuk memadamkan api di lahan gambut. Bahkan, jika harus memilih, tentu lebih baik melakukan perawatan di salon kecantikan, atau duduk di rumah sambil bermain gawai.

Para wanita pemberani ini tidak hanya berperan di balik layar membantu logistik tim pemadam api, namun mereka terjun langsung ke titik kebakaran, mengoperasikan mesin pompa air di area terbakar, dan memadamkan api.

Hal tersebut tentu saja tidak tanpa risiko mengingat area lahan gambut yang terbakar memungkinkan api membesar bahkan lahan gambut bisa saja membuat kaum hawa ini terperosok ke dalam bara api yang siap membakar kaki mereka.

Keikutsertaan para srikandi pemadam api ini didasari kesadaran dan rasa malu jika lahan di desa mereka terbakar dan asapnya dihirup oleh warga lain.

“Rasanya bersalah jika di dusun kita terbakar makanya kami selalu siap dipanggil jika ada kebakaran lahan.” ujar shinta salah satu dari mereka.Shinta menungkapkan sudah bergabung di MPA sejak tahun 2015.

Dia juga mengaku sudah beberapa kali dia mengikuti pelatihan pemadaman baik yang diselenggarakan oleh Pemda OKI maupun NGO.

Semula, menurut Shinta dia dan kawan-kawan perempuannya diberi tugas menangani logistik para petugas lapangan yang semuanya laki-laki. Namun tak butuh waktu lama bagi Shinta untuk ikut terjun berjibaku menghadang api.

Ia melakoni pekerjaan berat keluar masuk hutan, memanggul alat berat, menjinakkan api.

Shinta mengakui keterbatasan fisiknya dibanding rekan-rekan lelakinya. Namun itu tak jadi soal, sebab mereka berbagi beban.

“Kalau memanggul alat, kami yang perempuan membawa perlengkapan macam selang air. Sementara alat-alat yang lebih berat dibawa lelaki.” Katanya.

Lain lagi Rika (29) perempuan yang sehari-hari menjadi pengajar di PAUD Bunda Desa Talang Nangka. Kondratnya sebagai perempuan menurut dia bukan halangan untuk berbuat baik.

“kami ingin menunjukkan bahwa perempuan juga bisa, kami tidak pernah takut yang penting di desa kami jangan ada api” tungkasnya.

Rika menceritakan serunya bertugas dilapangan bersama tim pemadam api. Dia merasa menemukan keluarga baru serta terikat kebersamaan dengan tim pemadam Karhutbunlah yang terdiri dari Unsur TNI/Polri, BPBD dan RPK

“Kadang mereka juga kasian sama kami, kami dihibur disuruh kerjakan yang ringan-ringan saja tapi kami juga ingin melakukan apa yang dilakukan petugas laki-laki” tuturnya.

Besar-kecil bukan soal menurut Rika, juga perempuan-lelaki. Karena esensi yang sesungguhnya adalah kerja sama mereka dalam memadamkan kobar api.

Kepada masyarakat Rika juga berpesan untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak membakar hutan dan lahan bahkan menurut dia kesadaran dini itu sudah dia tanamkan pada anak-anak didiknya di PAUD.

Khusus kepada para remaja perempuan Rika juga mengajak untuk menjadi wanita yang tangguh tidak hanya sibuk nyinyir di meda sosial tapi memberi kerja nyata untuk masyarakat.

“Cantik itu tidak hanya yang terlihat diluar, masih banyak orang yang melihat kecantikan itu dari dalam, yang penting apa kita bisa berbuat untuk orang banyak” pesannya.(red)

KAYUAGUNG oganpost.com-Bupati Ogan Komering Ilir(OKI),H.Iskandar,SE menyarankan agar Badan Restorasi Gambut (BRG) terus memperkuat program revitalisasi ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di area lahan bekas terbakar untuk mencegah kebakaran hutan kebun dan lahan kembali terjadi.

Bupati, Iskandar mengatakan revitalisasi ekonomi di lahan gambut yang terdegradasi ini sangat berguna bagi masyarakat. 

Disamping bisa menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat, juga untuk mencegah kebakaran hutan, kebun dan lahan.

“Kita semua sepakat untuk mendahulukan pencegahan, namun penting agar program yang kita buat match dengan kebutuhan masyarakat akan kehidupannya agar mereka tidak membakar” Ungkap Iskandar saat menghadiri Focus Group Discusion penanggulanan Karhutbunlah pada Lahan Gambut di Palembang, Rabu, (16/10).

Menurut dia, jika lahan terdegradasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat maka tidak akan terlantar. 

“karena adanya rasa kepemilikan masyarakat terhadap area tersebut untuk menjaganya” ungkap Iskandar.

Iskandar mencontohkan pemanfaatan area bekas terbakar di Sepucuk Kayuagung dengan wanatani atau agroforestri. 

“Terimakasih kepada BRG kami sudah punya contoh lokasi yang berhasil namun masih sedikit sekali dibanding lahan yang terbakar” tambah Iskandar.

Iskandar juga meminta kolaborasi berbabagai pihak dalam penanggulangan kebakaran hutan, kebun dan lahan.

“Kita semua sudah kerja keras namun ini bukan kerja sektoral, upaya kolaboratif terus dikuatkan tidak termasuk dengan BRG” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Pusat, Nazir Foead mengaku saat ini Indonesia khususnya di daerah Lahan Gambut mengalami fase yang paling kering.

“Untuk itu ke depan pembasahan lahan gambut harus terus dimaksimalkan dan dilakukan,” ungkapnya

Fokus restorasi, tambah Foed yakni untuk melakukan pembasahan gambut, penanaman kembali dan revitalisasi ekonomi masyarakat di lahan gambut (rewetting, replanting, revitalization livelihoods).

Kendati demikian,ia mengatakan masyarakat perlu menjaga gambut dengan baik, dan membuktikan bahwa program-program restorasi gambut yang sudah dilakukan mampu menekan titik api.(red)