Agustin Rozalena, M.I.Kom

PALEMBANG oganpost.com-Tahun ini jelang tahun kedua bersekolah di masa pandemi COVID-19. Banyak perubahan yang terjadi, mulai dari waktu, pola belajar, kemampuan sosal ekonomi dalam hal mengupayakan media internet, alat komunikasi, bahkan pada komunikasi siswa dan guru/pembimbingnya. Namun, ada hal yang tak bisa berubah, yaitu bersekolah di masa pandemi dan tetap menjadikan sekolah adalah bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman bersosialisasi bagi anak.

Sebenanya, pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sudah memberi lampu hijau untuk masuk sekolah dan menyelenggarakan pertemuan tatap muka,namun, saat kondisi peningkatan kasus COVID-19 semakin tinggi, kini mencapai 3.372.374 kasus COVID -19 hingga 30 Juli 2021.

Hal ini memberi gambaran bahwa pemerintah tidak akan melaksanakan pembelajaran tatap muka pada level sekolah dasar hingga menengah, juga pendidikan tinggi saat kasus COVID-19 masih berlum terkendali,demikian pula dengan adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) juga berdampak pada pembelajaran tatap muka.

“Dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, aspek ekonomi, dan dinamika sosial, saya memutuskan melanjutkan menerapkan PPKM level 4 dari 26 Juli sampai 2 Agustus, namun kita akan melakukan beberapa penyesuaian terkait aktivitas dan mobilitas yang dilakukan secara bertahap dengan pelaksanaan yang ekstra hati-hati,”ujar Menteri Nadiem Makarim.

Hal yang dapat kita sikapi dari masa pandemi ini adalah bersekolah dan bersosialisasi tetaplah harus dilaksanakan meski dengan banyak penyesuaian,tentu ada arahan yang arif dan bijaksana karena bersekolah dan bersosialisasi tentu tak bisa dihentikan meski ada tatanan baru, yaitu protokol kesehatan 3 M : menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker,oleh karena itu saat bersekolah disertai penyesuaian, masa anak-anak bersosialisiasi pun tak semestinya hilang.

Bukankah bersosialisasi adalah fitrah manusia? ,disebut fitrah karena pada dasarnya bersosialisai merupakan sifat dasar yang dibangun untuk saling mengenal terutama dari anak-anak yang masih belia,ciri-ciri yang ditimbulkan secara reflek ketika saling mengenal inilah menunjukkan kita sangat tidak mungkin tidak saling tahu satu dengan yang lain.

Lihatlah anak-anak saat dibawa ke sebuah pertemuan dan ada anak-anak lain di sana. Meski baru pertama kali bertemu, mereka akan saling berinteraksi secara perlahan,tentu saja bahasa sosialisasi mereka khas anak-anak,bisa dengan berbagi makanan, berlarian, atau sekadar duduk atau bermain bersama. Percakapan biasanya akan bergulir setelah beberapa lama, tergantung karakter anak.

Terlepas dari semua itu, sosialisasi juga ternyata berdampak pada perkembangan anak-anak kita,pengaruh yang paling terlihat adalah bahasa dan sikap,saat anak-anak bergaul dengan teman-teman yang biasa berkata baik, bahasa mereka biasanya terbentuk menjadi baik,namun bersiaplah saat anak-anak bergaul dengan teman yang biasa berkata kotor dan kasar, mereka pun berpotensi untuk terbiasa berkata-kata yang sama.

Akan tetapi, saat ini anak-anak di masa pandemi COVID-19, kesempatan bersosialisasi ini sementara tertunda oleh ruang dan waktu,satu sisi anak-anak yang baru bersekolah dan yang sedang menjalankan tugasnya, namun kebijakan di masa pandemi adalah hal lain yang menjadi perhatian orangtua dna guru untuk tetap memberikan kesempatan anak untuk mengenal lingkungannya yang baru tanpa kehilangan lingkungan yang lama,dalam pengertian lingkungan lama ini adalah saat masa pandemi belum hadir,anak-anak masih merasakan kebebasan bersekolah dan bersosialisasi tanpa takut penularan massif.

Meski demikian, ada hal bijak yang perlu disikapi, bahwa saat pandemi anak-anak diberikan kesempatan untuk memahami bersekolah dengan pola baru, melibatkan alat komunikasi, hubungan emosial guru siswa dan orangtua, sinergi dengan guru melalui teknologi smartphone mesti tak harus mahal dan musti sering.

Begitupula dengan pola sikap dan perilaku antara anak, orangtua dan guru, bahkan mungkin dengan pembiasaan mengenal petugas penyuluh protokol kesehatan,bersosialisasi dengan pandemi COVID-19 serta perilaku dengan protokol kesehatan mengubah ruang dan waktu anak-anak untuk peduli dengan dirinya sendiri, keluarga dan teman temannya.

Lalu siapakah yang bagian penting dari peran bersosialisasi anak agar tidak hilang atau terlupa, tentu keluarga inti yang ada di sekitarnya, kerabat dan kelompok-kelompok masa pandemi yang menunjukkan kohesivitas tinggi. Grup pertemanan orangtua maupun sekolah, bahkan media sosial,kelompok-kelompok ini menjadi bagian penting membantu anak-anak tetap memiliki jati diri, budi pekerti dan belajar kreativitas.

Selain itu, pertemanan perorangan yang di bangun melalui hubungan dengan saudara di rumah, kakak, adik, bahkan beberapa teman sebagai tempat untuk berbagi cerita,namun, hal itu tetap menjadi tugas orangtua atau orang-orang penting di sekitar anak-anak. Bentuk kepedulian, pengawasan dan rasa sayang kepada anak-anak akan terus terpupuk karena waktu bersama ini lebih banyak untuk berkomunikasi.

Hal penting lainnya adalah bagaimana masa bersekolah dan bersosialisasi di masa pandemi ini tetap terikat oleh aturan-aturan sosial, walaupun sederhana. Sebagai contoh, bagaimana anak-anak diberikan kesempatan untuk belajar mengetahui apa itu protokol kesehtan,bagaimana anak-anak diberikan pemahaman untuk tidak keluar rumah, tentu menerapkannya melalui peniruan dari orangtuanya dengan alasan yang seusai penerimaan anak-anak,tentu saja, membimbing anak-anak untuk memilah dan memilih apa yang patut dan tidak patut ditonton, dilihat dan didengar melalui media massa maupun media sosial.

Sungguh hal yang logis, jika salah satu kunci sukses hidup bermasyarakat adalah kemampuan untuk bersosialisasi,artinya, jika kita ingin anak kita terampil bersosialisasi, maka pembelajaran sebaiknya dilakukan sejak usia dini,falam istilah lain, dengan bersosialisasi, banyak hal yang bisa anak-anak pelajari, seperti sikap saling berbagi, toleransi, empati, dan sebagainya,seperti harapan para ibu dan orangtua, anak-anak yang mampu bersosialisasi diharapkan akan tumbuh menjadi anak-anak yang merasa aman dan tenteram bila berada di tengah-tengah lingkungannya.

Mengingat hal ini sangat diperlukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, seyogyanya pihak sekolah, guru dan orangtua membangun sinergi untuk tetap menjaga semangat anak bersekolah. Selain itu, usia anak yang masih dini sangat diperlukan peran orangtua dalam mendorong dan mengajak anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya meski dengan menerapkan kebiasaan baru,pengalaman anak bergaul dengan berbagai macam lingkungan termasuk dengan protokol kesehatan juga dapat memperkaya wawasan anak bersosialisasi.

Refensi:
[1] S. P. Covid-19, “Data Sebaran COVID-19 Indonesia,” Covid-19, 2021. [Online]. Available: https://covid19.go.id/. [Accessed: 30-Jul-2021].
[2] C. Indonesia, “Nadiem Minta Sekolah Tatap Muka Mulai Juli [Online]. Available: https://app.cnnindonesia.com/. [Accessed: 30-Jul-2021)

Penulis : Agustin Rozalena, M.I.Kom
Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Selatan (USS) dan Penulis Buku “Memilih Sekolah untuk Anak”.(ziz) 

ONews

ONews

ONews - Berita hari ini, kabar harian terbaru terkini Indonesia dan dunia. Situs berita terpercaya seputar politik, peristiwa, bisnis, bola, tekno dan gosip artis.

Post A Comment:

0 comments: