iklan

RSUP Dr Sardjito Klaim Belum Temukan Kristal pada Pasien Gagal Ginjal

Ilustrasi. RSUP Dr Sardjito Sebut Tak Temukan Kristal pada Pasien Ginjal Akut (iStockphoto/wildpixel)

YOGYAKARTA -- RSUP Dr Sardjito menyatakan belum menemukan bukti senyawa kimia pembentuk kristal menjadi pemicu gagal ginjal akut pada anak. Pakar Nefrologi RSUP Dr Sardjito, Retno Palupi mengatakan, hasil biopsi atau pengambilan sampel jaringan ginjal mengarah ke temuan adanya nekrosis tubular akut yang umum didapati pada kasus pasien mengalami inflamasi atau infeksi berat.

"Yang kami masukan sebagai kriteria gagal ginjal akut progresif atipikal ini adanya gangguan di tubulus ginjal, di pipa-pipa ginjal itu ada gangguan yang mengalami nekrosis atau kematian jaringan tubulus dan degenerative, kerusakan di pipa-pipa ginjal itu," kata Retno di RSUP Dr Sardjito, Sleman, Selasa (25/10).

Pengambilan contoh jaringan ginjal dilakukan pada tiga pasien agar dapat mengidentifikasi profil kerusakan yang terjadi, dan menelusuri penyebab kerusakan jaringan tersebut.

"Dan kami tidak temukan adanya kristal pada biopsi renal (daerah sekeliling ginjal) tersebut," kata Retno.

Retno menekankan, investigasi ini sifatnya belum konklusif lantaran masih menunggu hasil uji sampel yang dikirimkan RSUP Dr Sardjito ke Labkesda DKI Jakarta.

"Kami menunggu laboratorium, sudah kami kirimkan seminggu yang lalu," tutupnya.

Dokter Spesialis Anak RSUP Dr Sardjito sekaligus selaku anggota tim medis dari Divisi Nefrologi Anak Kristia Hermawan menambahkan, kristal ini terbentuk manakala ada senyawa asing di sepanjang saluran pipa ginjal itu.

Pada kasus di mana terjadi keracunan metabolik dari etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG), terdapat senyawa yang kadarnya melebihi ambang batas. Tingkat keasaman akhirnya mendukung pembentukan kristal dalam saluran pipa ginjal.

"Begitu terbentuk kristal maka akan ada tambahan zat padat yang akan mengganggu aliran dari cairan yang melewati pipa-pipa itu. Kalau ada kristal yang terbentuk di situ, dan bentuknya tajam dia akan melukai dinding-dinding dari pipa," papar Kristia.

Kristal ini, kata Kristia, tidak ditemukan pada tiga pasien yang dua di antaranya masih membutuhkan hemodialisa atau terapi cuci darah. Sehingga, tidak menutup peluang mekanisme kerusakan pada ginjal bukan terkait kristal.

Kristia melanjutkan, pelacakan penyebab gagal ginjal akut progresif atipikal telah dilakukan sesuai dengan petunjuk dari Kementerian Kesehatan, di antaranya dengan melakukan penelusuran riwayat penggunaan obat sirop serta pemeriksaan toksikologi untuk mengetahui ada tidaknya EG/DEG dalam darah atau urine pasien.

Saat ini tim medis belum mendapat hasil pemeriksaan karena sampel harus diperiksa di Labkesda DKI Jakarta. Dari semua kasus yang telah ditangani hingga saat ini, baik pasien yang sudah dipulangkan maupun yang saat ini masih dirawat belum ada yang mendapat pengobatan antidote fomepizole.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) DIY Tunjung Wibowo menekankan, bahwa patut diketahui pemicu gagal ginjal lebih dari satu faktor. Semisal, kekurangan cairan dalam tubuh pun bisa jadi penyebabnya.

"Semakin kecil individunya, semakin mudah (terkena) gagal ginjal. Semakin muda usianya, semakin sensitif ginjal itu," kata Tunjung.(CNN indonesia)


No comments

Powered by Blogger.