Kopi Liberika, Peluang Baru Ekonomi Gambut dan Solusi Pencegahan Karhutlah di Kabupaten OKI
![]() |
| Forum Jurnalis Bende Seguguk bersama petani kopi liberika (foto : FJS) |
JAMBI, oganpost.com - Di tengah hamparan lahan gambut yang luas di pesisir timur Provinsi Jambi, terutama di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, terbentang kebun kopi liberika yang telah lama menjadi identitas pertanian masyarakat setempat.
Kopi liberika, dengan aroma dan cita rasa khas yang tidak dimiliki arabika maupun robusta, tumbuh subur di dataran rendah dan lahan gambut jenis tanah yang selama ini dianggap sulit dikembangkan untuk komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Potensi inilah yang kini menarik perhatian Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan. OKI dikenal sebagai kabupaten dengan bentang gambut terluas di Sumsel. Namun luasnya gambut tak selalu menjadi keuntungan.
![]() |
| Mr. Gadang Hartawan, (Foto. FJS) |
Setiap tahun, OKI dihadapkan pada isu kebakaran hutan dan lahan (Karhutlah) yang tak kunjung usai. Hampir setiap musim kemarau, wilayah ini bergelut dengan ancaman asap, rusaknya ekosistem, dan dampak kesehatan bagi masyarakat.
Karena itu, mencari komoditas yang mampu tumbuh di gambut sekaligus menjaga lahan tetap produktif menjadi kebutuhan mendesak. Salah satu jawabannya adalah kopi liberika.
Kunjungan studi banding ke Kebun Kopi Liberika Tungkal di Tanjung Jabung Barat menjadi pembelajaran penting bagi rombongan dari OKI. Di kebun itu, pohon-pohon liberika menjulang kuat di atas tanah gambut yang tebal. Akar tanaman yang masuk hingga lapisan dalam membantu menjaga kelembapan gambut.
Sementara tajuk pohon yang rimbun menghalangi paparan langsung sinar matahari, sehingga gambut tidak mudah mengering faktor penting dalam mencegah Karhutlah.
Heriyadi, Ketua Gapoktan Mekar Jaya, menjelaskan bahwa sebagian kebun kopi liberika di daerahnya telah berumur lebih dari 40 tahun dan tetap produktif hingga kini.
“Liberika cocok sekali di gambut. Tidak rewel, tahan banjir, tahan juga kalau kering. Yang penting dirawat, dibersihkan, dan dirangsang pembuahannya. Usia 1,5 tahun sudah mulai berbuah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa liberika dapat dikombinasikan dengan tanaman pinang. Kedua tanaman ini sangat cocok di lahan gambut dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Pola tanam tumpang sari ini bukan hanya menambah pendapatan petani, tetapi juga memperkuat tutupan lahan sehingga risiko kebakaran bisa ditekan.
![]() |
| Juwanda, Ketua DPD Asosiasi Kopi Indonesia (Aski) Kota Jambi |
Juwanda, Ketua DPD Asosiasi Kopi Indonesia (Aski) Kota Jambi, memberikan perspektif lebih luas mengenai masa depan kopi liberika dalam konteks perubahan iklim global.
Menurutnya, arabika dan robusta kini terancam karena hanya bisa ditanam di dataran tinggi dengan suhu tertentu. Ketika suhu meningkat, hama, penyakit, dan ketidakstabilan cuaca membuat produksi kedua jenis kopi tersebut turun.
“Liberika justru menjadi primadona baru. Dia tahan panas, tahan genangan, tumbuh di gambut dan dataran rendah wilayah yang selama ini jarang dimanfaatkan untuk komoditas kopi,” jelasnya.
Pertumbuhan pasar liberika juga sangat positif. Banyak roastery dan pelaku industri kopi sekarang mencari identitas rasa baru yang berasal dari gambut.
Liberika memiliki karakter rasa yang unik: aroma kayu, karamel, sedikit smoky, dan aftertaste yang khas. Hal ini membuatnya punya pangsa pasar tersendiri, terutama dalam industri kopi spesialti.
“Soal pemasaran, sekarang bukan petani yang mencari pembeli. Justru para penggiat kopi yang datang mencari pasokan. Liberika gambut ini sedang naik daun,” kata Juwanda.
Harga buah kopi liberika dalam bentuk cherry bisa mencapai Rp 12.000 per kilogram, sedangkan harga bubuk atau green bean bisa mencapai ratusan ribu rupiah tergantung kualitasnya. Dengan penanganan pascapanen yang baik, nilai jual kopi liberika bisa meningkat berkali lipat.
Ketua Forjubes OKI, Nur Muin, menilai bahwa kopi liberika bukan hanya cocok secara ekologis di OKI, tetapi juga sangat relevan sebagai solusi jangka panjang dalam mengurangi risiko Karhutlah.
“Setiap tahun OKI berjuang dengan Karhutlah yang tidak pernah benar-benar selesai. Jika lahan gambut dibiarkan kosong, ia cepat mengering dan mudah terbakar. Tanaman seperti liberika membuat lahan tetap hidup, lembap, dan produktif. Ini bagian dari pencegahan Karhutlah yang berbasis pemberdayaan,” jelasnya.
![]() |
| Kopi Liberika ( Foto. FJS) |
Ia menambahkan bahwa karakter gambut OKI hampir identik dengan gambut di Tanjung Jabung Barat. Dengan demikian, teknik budidaya liberika sangat mungkin diterapkan tanpa perlu penyesuaian besar. Para petani OKI bisa langsung memulai dengan pendampingan dari pihak terkait.
Selain itu, OKI kini memiliki keunggulan strategis dalam pemasaran. Akses jalan tol yang menghubungkan OKI ke Palembang hingga Pulau Jawa membuka peluang ekspor domestik hingga antarprovinsi.
Kafe-kafe lokal yang mulai tumbuh di Kota Kayuagung dan sekitarnya juga menjadi pasar awal yang bagus untuk produk kopi liberika lokal.
“Kita tidak hanya bicara soal komoditas baru, tetapi soal masa depan gambut OKI. Jika petani terlibat, pemerintah mendampingi, dan pasar menyerap, liberika bisa menjadi penyelamat ekonomi dan ekologi,” tegas Nur Muin.
Dengan potensi besar tersebut, Kabupaten OKI memiliki peluang menjadi salah satu sentra kopi liberika di Sumatera Selatan. Keunggulan liberika bukan hanya pada ketahanannya terhadap lingkungan ekstrem, tetapi juga pada peran ekologisnya dalam menjaga kelembapan gambut dan mencegah potensi kebakaran.
Pengembangan liberika dapat menjadi bagian integral strategi pengelolaan lahan gambut berkelanjutan di OKI untuk meningkatkan pendapatan petani, mengurangi risiko Karhutlah, memperluas diversifikasi ekonomi,dan memperkenalkan identitas baru bagi daerah.(FJS/RIO)




%20oki.png)
No comments