Pemkab OKI Klaim Tak Semua Hotspot Berarti Ada Api

OKI374 Dilihat

OKI, oganpost.com — Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, menyatakan titik panas (hotspot) yang terdeteksi satelit belum tentu menandakan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karena itu, pengecekan langsung ke lapangan menjadi langkah penting untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Berdasarkan data pemantauan pada Jumat (23/10/2026), jumlah hotspot di OKI tercatat 335 titik. Angka tersebut turun dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.007 titik.

Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki mengatakan, temuan titik panas melalui pemantauan satelit harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan langsung oleh petugas. Langkah itu diperlukan agar penanganan karhutla didasarkan pada kondisi nyata di lapangan.

“Setiap titik panas harus dicek di lapangan untuk memastikan apakah benar ada api atau tidak. Jika ditemukan kebakaran, petugas harus segera mengambil tindakan agar api tidak meluas,” ujar Muchendi saat meninjau posko Satgas Karhutla di Desa Kayu Labu, Kecamatan Pedamaran Timur, Jumat (23/10/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Muchendi juga menyemangati personel Satgas Karhutla yang terdiri atas unsur TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI.

Kepala BPBD OKI, Pratama Suryadi, menjelaskan bahwa data hotspot dari sistem pemantauan Sipongi milik Kementerian Kehutanan menjadi salah satu acuan dalam pengawasan. Namun, hasil deteksi satelit tidak bisa langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya kebakaran.

“ Kami mengacu pada data hotspot dari Sipongi, tetapi tetap dilakukan ground check. Belum tentu hotspot itu ada api,” kata Pratama.

Data pemantauan selama 16–23 Oktober menunjukkan jumlah hotspot di OKI bergerak fluktuatif. Pada 16 Oktober tercatat 871 titik, lalu meningkat menjadi 1.199 titik pada 17 Oktober. Jumlahnya turun menjadi 473 titik pada 18 Oktober, 386 titik pada 19 Oktober, dan 286 titik pada 20 Oktober.

Hotspot kembali meningkat menjadi 695 titik pada 21 Oktober dan 1.007 titik pada 22 Oktober, sebelum turun menjadi 335 titik pada 23 Oktober.

Menurut Pratama, satelit mendeteksi titik panas berdasarkan karakteristik suhu dan tingkat kepercayaan (confidence level). Hasil deteksi tersebut membantu petugas menentukan lokasi yang perlu diperiksa, tetapi tetap membutuhkan verifikasi di lapangan.

Objek bersuhu tinggi, seperti permukaan seng atau aspal yang terpapar matahari, berpotensi terdeteksi sebagai titik panas. Karena itu, koordinat hasil pemantauan perlu dicocokkan dengan kondisi di lokasi sebelum disimpulkan sebagai kejadian karhutla.

Petugas kemudian diarahkan menuju titik koordinat untuk memastikan apakah terdapat api dan menentukan langkah penanganan apabila ditemukan kebakaran.

Selain melalui pemantauan satelit, BPBD OKI juga menerima laporan dari masyarakat. Warga yang melihat indikasi kebakaran diimbau menyampaikan informasi disertai foto atau video dan titik koordinat lokasi agar petugas dapat melakukan pengecekan.

“Kalau masyarakat melapor, kami minta foto, video, dan titik koordinatnya. Setelah itu, tim langsung bergerak ke lokasi tanpa harus melalui prosedur berjenjang,” kata Pratama.

Ia mengimbau masyarakat tetap melaporkan kejadian kebakaran meskipun lokasi tersebut belum terpantau satelit. Laporan yang disampaikan sejak dini dapat membantu petugas memastikan kondisi di lapangan dan mempercepat penanganan apabila ditemukan api.(RIO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *