Dosen Unanda Melaksanakan Kajian Keislaman Bagda Magrib dan Isya Di Lutra

PALOPO (SULSEL), oganpost.com – Dosen Program Studi Ilmu Hukum Universitas Andi Djemma (Unanda) Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel) Suparman Mannuhung, melaksanakan kajian keislaman bakda Magrib dan Isya di Masjid An-Nur, Masamba, ibukota Luwu Utara, Sabtu 30 Mei 2026 kemarin.

Kegiatan yang dihadiri jemaah dari berbagai kalangan tersebut tidak hanya membahas nilai-nilai keislaman, tetapi juga menjadi media sosialisasi program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tahun 2026 yang akan dilaksanakan di kawasan rawan bencana.

Dalam penyampaiannya, Suparman Mannuhung menjelaskan rencana pelaksanaan PKM bertema “Pemberdayaan Masjid Ramah Bencana melalui Implementasi Green Zakat Framework dan Literasi Ekoteologi di Kawasan Rawan Bencana.”

Program ini bertujuan memperkuat peran masjid sebagai pusat edukasi, pemberdayaan sosial, serta penguatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi resiko bencana.

Menurutnya, konsep Green Zakat Framework merupakan pengembangan pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang tidak hanya berorientasi pada bantuan konsumtif, tetapi juga diarahkan untuk mendukung pelestarian lingkungan, mitigasi bencana, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

“Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi pusat penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Melalui zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara produktif dan berwawasan lingkungan ini, umat dapat berkontribusi dalam upaya membangun ketahanan sosial dan ekologis,” terangnya.

Dalam kajian tersebut, Suparman juga memperkenalkan konsep literasi ekoteologi Islam, yaitu pemahaman bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah keagamaan. Ia pun mengutip firman Allah SWT sebagai berikut yakni, janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)

Ia menegaskan bahwa, ajaran Islam mengandung nilai-nilai pelestarian lingkungan, pengurangan resiko bencana, dan kepedulian terhadap keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.

Kajian tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan diikuti antusias jemaah lainnya. Selain memperdalam pemahaman agama, kegiatan ini juga membuka ruang dialog mengenai peran masyarakat dan masjid dalam upaya mendukung program pemberdayaan berbasis keagamaan dan lingkungan.

Dengan kegiatan ini, Suparman berharap terbangun kesadaran kolektif bahwa masjid dapat menjadi garda terdepan dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana, peduli lingkungan, dan aktif mengoptimalkan potensi ZIS untuk kemaslahatan umat.

Juga menjadi bagian dari upaya awal membangun kolaborasi antara akademisi, pengurus masjid, tokoh agama, dan masyarakat dalam mewujudkan Masjid Ramah Bencana sebagai pusat ibadah, edukasi, dan pemberdayaan sosial yang berkelanjutan.

Laporan : Ega/Yustus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *