Hilirisasi Kopi Pagar Alam, Ludi Oliansyah Dorong Kopi Lokal Naik Kelas ke Pasar Internasional

PAGARALAM44 Dilihat

PAGAR ALAM, oganpost.com — Pemerintah Kota Pagar Alam di bawah kepemimpinan Wali Kota Ludi Oliansyah terus menggenjot program hilirisasi kopi sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat.

Langkah tersebut dinilai sangat strategis mengingat kopi merupakan salah satu komoditas utama Kota Pagar Alam. Sebagian besar masyarakat menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian, termasuk perkebunan kopi yang tersebar di berbagai wilayah Kota Pagar Alam.

Melalui Dinas Koperasi, UMKM dan Tenaga Kerja, Pemkot Pagar Alam mendorong agar kopi tidak lagi hanya dipasarkan dalam bentuk biji mentah, tetapi diolah menjadi produk siap jual dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Salah satu produk yang mulai ditawarkan dalam penguatan branding kopi Pagar Alam adalah Kopi Arabika Premium Raden Kuning.

Program hilirisasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk membangun mata rantai ekonomi kopi dari hulu hingga hilir. Mulai dari petani sebagai penghasil bahan baku, proses pengolahan, roasting, pengemasan, pemasaran, hingga produk siap konsumsi.

Wali Kota Pagar Alam Ludi Oliansyah menegaskan, potensi kopi yang dimiliki daerah harus mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat, terutama para petani.

“Kopi Pagar Alam memiliki potensi besar. Karena itu, jangan sampai kita hanya menjadi daerah penghasil bahan baku. Kita ingin kopi dari Pagar Alam diolah, dikemas dan dipasarkan sebagai produk unggulan daerah yang memiliki nilai tambah dan mampu bersaing lebih luas,” jelas Wali Kota Ludi Oliansyah.

Menurutnya, hilirisasi bukan sekadar mengubah bentuk kopi dari biji menjadi bubuk atau roasted coffee. Lebih jauh, program tersebut harus menjadi ekosistem ekonomi yang mampu memperkuat posisi petani, pelaku UMKM, tenaga kerja lokal hingga sektor perdagangan dan pariwisata.

Ludi juga mendorong agar produk kopi Pagar Alam memiliki identitas dan kualitas yang kuat sehingga mampu menjadi salah satu ikon ekonomi daerah.

“Kita ingin masyarakat mengenal Pagar Alam bukan hanya karena keindahan Gunung Dempo dan pariwisatanya, tetapi juga karena memiliki kopi berkualitas yang mampu menembus pasar regional, nasional bahkan internasional,” imbuhnya.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Tenaga Kerja Kota Pagar Alam, Ahmad Ali Ramadhan, didampingi Kepala Bidang UMKM Liong Sander, menjelaskan bahwa hilirisasi kopi diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM.

Menurut Ahmad Ali Ramadhan, selama ini potensi kopi Pagar Alam sangat besar, namun tantangannya adalah bagaimana produk tersebut dapat dikembangkan sehingga memberikan keuntungan yang lebih besar di tingkat daerah.

“Hilirisasi ini bagaimana kita mendorong kopi dari Pagar Alam tidak berhenti sebagai bahan baku. Kita ingin ada proses pengolahan, packaging, branding dan pemasaran sehingga nilai tambahnya dapat dinikmati oleh pelaku usaha dan masyarakat Pagar Alam,” ujar Ahmad Ali Ramadhan.

Ia mengatakan, pengembangan produk seperti Kopi Arabika Premium Raden Kuning merupakan salah satu langkah untuk memperkuat identitas produk kopi lokal.

Dengan pengemasan dan branding yang baik, kopi Pagar Alam diharapkan mampu masuk ke pasar yang lebih luas, baik melalui toko oleh-oleh, pusat perbelanjaan, kedai kopi, marketplace maupun jaringan pemasaran antardaerah.

Hilirisasi memberikan peluang bagi Kota Pagar Alam untuk membangun rantai ekonomi yang lebih panjang.

Biji kopi yang sebelumnya dijual sebagai bahan mentah dapat dikembangkan menjadi green bean berkualitas, roasted coffee, kopi bubuk, kopi kemasan siap konsumsi hingga berbagai produk turunan berbasis kopi.

Semakin banyak proses pengolahan dilakukan di daerah, semakin besar pula potensi nilai ekonomi yang berputar di tengah masyarakat.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku UMKM, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi tenaga kerja lokal, mulai dari pengolahan, pengemasan, desain produk, pemasaran, distribusi, kedai kopi hingga sektor logistik.

Bagi petani, hilirisasi juga menjadi peluang untuk memperkuat posisi mereka dalam rantai pasok komoditas kopi.

Petani tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi dapat diarahkan menjadi bagian dari ekosistem bisnis kopi yang memiliki standar kualitas dan nilai jual lebih tinggi.

Kota Pagar Alam memiliki modal besar untuk menjadikan kopi sebagai salah satu kekuatan ekonomi daerah.

Bentang alam dataran tinggi dan kawasan sekitar Gunung Dempo menjadi bagian dari karakter geografis yang selama ini melekat dengan produksi kopi Pagar Alam.

Karena itu, pengembangan kopi juga dapat dikolaborasikan dengan sektor pariwisata.

Wisatawan yang datang ke Pagar Alam tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga dapat membawa pulang produk kopi lokal sebagai oleh-oleh sekaligus bagian dari pengalaman wisata.

Konsep tersebut membuka peluang lahirnya coffee tourism, yakni pengembangan kopi sebagai bagian dari destinasi wisata, edukasi perkebunan, proses roasting, hingga menikmati kopi lokal secara langsung di daerah penghasilnya.

Pemkot Pagar Alam melalui Dinas Koperasi, UMKM dan Tenaga Kerja juga memiliki pekerjaan besar untuk memastikan hilirisasi tidak berhenti pada produksi.

Penguatan kualitas, sertifikasi, desain kemasan, legalitas usaha, pemasaran digital, kapasitas produksi serta konsistensi rasa menjadi bagian penting agar produk kopi Pagar Alam mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Kopi Arabika Premium Raden Kuning diharapkan menjadi salah satu contoh bahwa produk lokal Pagar Alam dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan memiliki identitas daerah.

Ahmad Ali Ramadhan menambahkan, pemerintah akan terus mendorong pelaku UMKM agar semakin siap menghadapi persaingan pasar.

“Kita ingin UMKM kopi Pagar Alam naik kelas. Bukan hanya mampu memproduksi, tetapi juga mampu membangun merek, menjaga kualitas dan membuka pasar yang lebih luas,” pungkasnya.

Dengan hilirisasi tersebut, kopi diharapkan tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas pertanian, tetapi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Kota Pagar Alam.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Ludi Oliansyah, pengembangan kopi diarahkan untuk menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas, dari petani, UMKM, tenaga kerja, perdagangan hingga pariwisata.

Dari kebun kopi Pagar Alam, menuju produk unggulan daerah. Dari Gunung Dempo, menembus pasar Indonesia dan membuka peluang menuju pasar dunia.(MIKO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed