Perebutan Kursi Ketua DPC PKB OKI Menyisakan Cerita Menarik

OKI107 Dilihat

OGAN KOMERING ILIR, oganpost.com– Perebutan kursi Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) periode 2026-2031 menyisakan cerita menarik. Di tengah persaingan internal yang cukup dinamis, Ketua DPRD OKI Farid Hadi Sasongko justru keluar sebagai pemenang, meski harus berhadapan dengan nama besar pamannya sendiri, H.M. Dja’far Shodiq.

Pada Musyawarah Cabang (Muscab) PKB OKI yang digelar di Hotel Dinesty, 18 April 2026 lalu, terdapat delapan nama bakal calon Ketua DPC. Dari delapan nama tersebut, perhatian banyak pihak tertuju kepada H.M. Dja’far Shodiq dan Farid Hadi Sasongko.

Saat itu, banyak pihak menilai Farid hanya menjadi pelapis bagi sang paman. Namun peta politik di tubuh PKB ternyata berbicara lain. Jabatan Farid sebagai Ketua DPRD OKI dinilai menjadi nilai tambah tersendiri di mata DPP PKB yang belakangan memang cenderung melirik kader yang memiliki posisi strategis di pemerintahan maupun legislatif.

Farid mengaku dirinya tidak melakukan manuver khusus untuk merebut jabatan tersebut. Ia hanya mengikuti seluruh tahapan yang ditetapkan partai hingga akhirnya namanya diumumkan sebagai Ketua DPC PKB OKI periode 2026-2031.

Pengumuman itu disampaikan DPP PKB di Jakarta pada 11 Juni 2026 pukul 14.00 WIB.

“Saya sendiri kaget. Awalnya saya mengira hanya menjadi pelapis Pak Shodiq. Semua tahapan saya ikuti sebagaimana mestinya tanpa ada langkah-langkah lain,” ujar Farid.

Penetapan Farid sebagai Ketua DPC PKB OKI sempat memunculkan berbagai spekulasi. Bahkan sejumlah pemberitaan menyebut dirinya melakukan kudeta terhadap H.M. Dja’far Shodiq yang tak lain adalah pamannya sendiri.Namun dinamika politik PKB OKI belum berhenti sampai di situ.

Wakil Ketua DPC PKB OKI, Erwin Ronel, sebelumnya bahkan sempat memberikan sinyal keras. Dalam perbincangan dengan oganpost.com di Kantor DPC PKB OKI, Ronel mengaku sempat mempertanyakan arah kepemimpinan partai apabila Farid memegang kendali.

“Saya tidak tahu saya akan masih di PKB atau tidak,” ujar Ronel beberapa waktu lalu.

Pernyataan tersebut sempat memunculkan dugaan adanya friksi internal. Namun ketika susunan kepengurusan diumumkan, Ronel justru dipercaya menjabat sebagai Bendahara DPC PKB OKI periode 2026-2031.

Menariknya, hanya berselang beberapa hari setelah pengumuman tersebut, terjadi perubahan arah politik di internal PKB OKI.

Melalui Rapat Formatur DPW PKB Sumatera Selatan yang digelar pada 18 Juni 2026 dan dihadiri perwakilan DPP PKB, posisi Ketua DPC PKB OKI kembali dipercayakan kepada H.M. Dja’far Shodiq.

Farid menegaskan dirinya tidak pernah mengundurkan diri dari kepengurusan. Ia menyebut langkah tersebut merupakan bagian dari kesepakatan bersama untuk menjaga soliditas partai.

“Jangan salah persepsi. Saya bukan mengundurkan diri, tetapi mendelegasikan kepada Pak Shodiq sesuai mekanisme yang ada. Tujuannya agar PKB semakin solid dan mampu meraih kemenangan pada agenda politik ke depan,” katanya.

Nama H.M. Dja’far Shodiq memang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan PKB OKI. Pada Pemilu Legislatif terakhir, PKB berhasil mengamankan tujuh kursi di DPRD OKI, capaian yang hingga kini masih menjadi prestasi terbaik partai tersebut di tingkat kabupaten.

Tak heran jika sebagian kader menyebut Shodiq sebagai “Ikon Tujuh Kursi”. Meski belum pernah mendapat penghargaan resmi dari DPP maupun DPW, capaian itu menjadi modal politik yang cukup kuat.

Namun catatan berbeda muncul pada Pilkada OKI terakhir. Saat maju sebagai calon bupati berpasangan dengan Abdiyanto Fikri, pasangan tersebut gagal meraih kemenangan. Bahkan di sejumlah wilayah yang dianggap sebagai basis politiknya sendiri, perolehan suara pasangan ini tidak mampu mendominasi.

AM, Seorang pengamat politik senior yang diwawancarai oganpost.com menilai PKB OKI memiliki dua wajah politik yang berbeda.

“PKB ini unik. Di OKI mereka kuat saat Pemilu Legislatif, tetapi belum mampu menerjemahkan kekuatan itu menjadi kemenangan di Pilkada. Istilahnya, menang pemilu, kalah pilkada. Tapi dalam politik itu hal biasa,” ujarnya dikantor oganpost Jumat (19/6/2026).

Menurutnya, kemunculan Farid Hadi Sasongko sebenarnya menjadi peluang besar bagi regenerasi kepemimpinan PKB OKI.

Dengan statusnya sebagai Ketua DPRD OKI dan figur muda yang mulai dikenal publik, Farid dinilai memiliki peluang masuk dalam bursa calon kepala daerah pada kontestasi politik mendatang.

“Bisa saja Farid menjadi calon bupati atau calon wakil bupati pada periode berikutnya. Jabatan Ketua DPC tentu menjadi modal politik yang penting. Yang diperlukan sekarang adalah proses pembinaan dan penguatan kapasitas kepemimpinan,” katanya.

Meski demikian, ia menilai PKB masih memiliki pekerjaan rumah dalam menyusun formasi kepengurusan yang ideal.

Menurutnya, posisi sekretaris partai seharusnya ditempati figur yang memiliki kemampuan komunikasi dan diplomasi yang kuat agar marwah partai tetap terjaga.

“PKB sebenarnya punya banyak kader potensial. Ada Lutfiyanada, ada Mahyudin.Mereka layak dipertimbangkan untuk posisi-posisi strategis dalam kepengurusan,” pungkasnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *