Polemik Membara di Universitas Merangin: Vakumnya BEM Picu Ancaman Aksi Massal Mahasiswa

JAMBI193 Dilihat

MERANGIN, oganpost.com – Suasana di lingkungan Universitas Merangin (dahulu bernama STKIP Bangko) semakin memanas. Ketidakhadiran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang berlarut-larut, ditambah tanda tanya besar soal pengelolaan yayasan dan status aset kampus, kini memicu reaksi tegas dari kalangan mahasiswa.

Sebelumnya, Aliansi Mahasiswa dan pengurus BEM terdahulu telah mempertanyakan pengelolaan Yayasan dengan Akta Nomor 44 Tahun 2010. Setidaknya ada empat poin krusial yang menjadi sorotan tajam:
– Keabsahan keterkaitan akta yayasan dengan keberadaan kampus
-Kewenangan dalam menarik biaya atau dana dari mahasiswa
-Transparansi pengelolaan aset milik yayasan maupun kampus
-Dugaan penggunaan dokumen identitas ganda dalam urusan administrasi

Muncul dugaan di kalangan sivitas akademika bahwa vakumnya BEM bukanlah kebetulan belaka. Banyak yang menduga pihak pengelola kampus sengaja menunda pembentukan lembaga perwakilan mahasiswa ini untuk menghindari pengawasan dan kritik yang bisa membongkar persoalan-persoalan yang masih menjadi tanda tanya.

Namun, penjelasan resmi dari pihak kampus justru membantah anggapan tersebut. Melalui Kepala Humas Universitas Merangin, Janiko, M.Pd, pada 19 Juni 2026, ia menegaskan tidak ada kaitan antara belum terbentuknya BEM dengan dugaan penyimpangan.

“Tidak ada kaitan sama sekali. Belum terbentuknya BEM semata karena struktur internal kampus masih dalam tahap penyesuaian pasca perubahan status. Nanti jika susunan kepengurusan sudah jelas dan mantap, pembentukan BEM akan segera kami susun,” ujarnya tegas.

Terkait status hukum kampus dan penggunaan aset milik Pemerintah Daerah Merangin, Janiko menyatakan komunikasi dengan Pemda tetap terjalin. Namun ia menegaskan bahwa menjawab rincian persoalan hukum tersebut bukan ranah tugas pihak akademisi kampus.

Ancaman Aksi Massal Jika Janji Diingkari

Penjelasan pihak kampus ternyata belum memuaskan para mahasiswa. Sejumlah mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Merangin, yang enggan menyebutkan namanya secara terbuka, mengeluarkan pernyataan tegas.

“Jika sampai bulan September nanti BEM juga belum terbentuk, kami akan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran yang diikuti perwakilan dari seluruh fakultas. Kami tidak akan takut lagi,” tegas salah satu perwakilan mahasiswa.

Mereka menilai penjelasan pihak kampus hanyalah janji kosong semata. “Apa susahnya mengaktifkan kembali BEM? Atau justru mereka semua tidak berani, tidak punya nyali untuk membentuk kembali lembaga perwakilan mahasiswa ini?” tantangnya.

Hingga saat ini, ketegangan terus memuncak. Publik menunggu apakah pihak kampus akan segera mewujudkan komitmennya, atau justru akan menghadapi gelombang protes mahasiswa yang siap meledak pada bulan September mendatang.

 Reporter : Rudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *