SULSEL, Oganpost.com – Suasana penuh khidmat dan kebersamaan mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-102 Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) yang digelar di Makassar, pekan lalu.
Mengusung tema besar “Wanita Katolik Republik Indonesia Bergerak Menuju Perempuan Berdaya, Keluarga Tangguh, Peduli Sesama dan Semesta”, acara ini menjadi momentum bagi seluruh anggota untuk merefleksikan peran organisasi dalam masyarakat.
Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Mebangsaan Indonesia Raya, disusul doa pembuka oleh Senior, dan lantunan khidmat Hymne Wanita Katolik.
Dalam sambutan penasehat WKRI DPD Sulawesi-Selatan (Sulsel) dan juga Ketua Komisi Kerawam dan Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Agung Makassar, Ps Albert Arina, Pr menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam atas kerja keras seluruh tim sehingga perayaan hari jadi ke-102 ini dapat terlaksana dengan baik.
Tema ini menegaskan bahwa, tema yang diusung tahun ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah komitmen yang harus diwujudkan.
“Sebagai penasehat organisasi WKRI DPD Sulsel, kami ingin memastikan langkah senantiasa relevan dengan kebutuhan masyarakat. WKRI ingin menjadi perempuan yang berdaya, memperkuat ketahanan keluarga, serta memiliki kepekaan sosial terhadap sesama dan lingkungan,” sebut Albert Arina.
Keluarga adalah fondasi bagi masyarakat yang kuat,” imbuhnya seraya berterima kasih kepada seluruh panitia dan tamu undangan.
Sementara itu, Pastor Dericson Alverius Tumip, CICM Vikaris Jenderal KAMS Ketua Presidium Wanita Katolik menegaskan bahwa, WKRI DPD Sulsel, harus terus memperjuangkan semangat awal organisasi, sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Dan berharap Wanita Katolik RI, semakin mandiri dan memiliki kepedulian dan integritas yang tinggi terhadap pelestarian lingkungan hidup.
“Wanita Katolik RI terus berupaya meningkatkan kualitas hidup untuk kepentingan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan perempuan, membangun persaudaraan universal, menghadirkan damai dan persatuan serta merawat bumi rumah kita bersama. Semakin beriman semakin bersaudara, semakin bersaudara semakin berbelarasa,” terangnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat. “Kita harus terus menjaga sinergi, jangan sampai terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Melalui kegiatan seperti ini, kita tegaskan bahwa NKRI adalah harga mati,” jelasnya.
Untuk diketahui bahwa, perjalanan 102 tahun WKRI adalah kisah panjang perjuangan petempuan dalam Gereja. Ini bukan sekadar perayaan, tetapi panggilan melanjutkan semangat pendiri Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Raden Ayu Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat Darmaseputra, dengan karya nyata yang relevan bagi Zaman ini.
WKRI berdiri 26 Juni 1924 di Yokyakarta dan diakui secara hukum pada 5 Februari 1952, dan kini terus berkembang dan sejak 1957 menjadi bagian dari World Union of Catholik Womens Organisations (WUCWO).
***Ega/Yustus






