Gaya Kepemimpinan DR. Misrinadi: Tegas Berprinsip, Ramah dan Membumi

JAMBI, SOSIAL205 Dilihat

MERANGIN, oganpost.com – Sosok Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Kabupaten Merangin, Dr. Misrinadi, S.Pd., MM, dikenal bukan hanya karena jabatannya, melainkan juga kepribadiannya yang hangat, sederhana, dan sangat dekat dengan semua kalangan.

Di setiap kesempatan, tawa renyahnya selalu mampu mencairkan suasana, terutama saat melakukan kunjungan langsung ke sekolah-sekolah. Namun di balik keramahan itu, tersimpan karakter pemimpin yang tegas, disiplin, dan memegang teguh prinsip kerja.

Gaya kepemimpinannya jauh dari kesan kaku. Ia tidak suka membangun jarak dengan bawahan. Sebaliknya, ia lebih memilih pendekatan dialogis, membuka ruang diskusi seluas-luasnya, serta mendengarkan langsung masukan dari pegawai, kepala sekolah, pengawas, hingga para guru. Baginya, kemajuan pendidikan tidak bisa dibangun hanya dengan perintah semata, melainkan harus lewat kebersamaan dan tanggung jawab kolektif.

“Kalau ingin memperbaiki pendidikan, maka yang pertama harus dibenahi adalah diri kita sendiri. Mulai dari kedisiplinan, kejujuran, hingga komitmen terhadap tugas,” tegas Misrinadi.

Meski dikenal santai dan bersahaja, ia tetap menegaskan bahwa urusan kedinasan adalah hal yang serius. Disiplin waktu, etos kerja, dan kepatuhan pada aturan menjadi nilai utama yang selalu ditekankan. Ia ingin seluruh tenaga pendidik dan staf bisa menjadi teladan, baik di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat.

Sejak menjabat, Dr. Misrinadi fokus mendorong peningkatan kualitas SDM pendidikan. Ia memberi perhatian besar pada peningkatan kompetensi guru, penguatan peran kepala sekolah, kebersihan lingkungan sekolah, serta optimalisasi tugas pengawas. Baginya, mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas pendidiknya.

Tak hanya urusan akademik, pendidikan karakter juga jadi prioritas utama. Ia ingin sekolah melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, sekaligus berakhlak mulia, beretika, memiliki kepedulian sosial, dan tetap melestarikan nilai-nilai budaya lokal.

“Hubungan baik dengan siapa pun harus dijaga. Tidak hanya di sekolah, tapi juga dengan masyarakat. Itulah yang disebut kompetensi sosial,” tambahnya.

Dalam mengambil keputusan, ia tegas jika menyangkut pelanggaran aturan, namun selalu dibarengi dengan pendekatan kekeluargaan dan pembinaan. Ia percaya hukuman tanpa pembinaan tidak akan membawa perubahan yang berkelanjutan.

Komitmennya juga terlihat lewat kehadirannya langsung di lapangan. Ia ingin mengetahui kondisi sebenarnya pendidikan di Merangin, tidak hanya mengandalkan laporan di atas meja.

Perpaduan sikap manusiawi, ketegasan, dan kesederhanaan ini membuatnya diterima luas. Besar harapan, di bawah kepemimpinannya, pendidikan Merangin terus maju — berkembang secara sistem, namun tetap tumbuh kuat dengan nilai kemanusiaan dan budaya. (Rudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *