Vakum Tiga Tahun BEM Universitas Merangin Dinilai Ancam Akreditasi, Rektor: Tahun Ini Akan Dibentuk

JAMBI664 Dilihat

MERANGIN (JAMBI), oganpost.com – Tiga tahun telah berlalu sejak resmi bertransformasi menjadi Universitas Merangin pada Juni 2022 silam, namun tata kelola kemahasiswaan di kampus terbesar di Bumi Merangin ini dinilai masih berjalan di tempat. Pasalnya, hingga saat ini wadah eksekutif tertinggi mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat Universitas, belum juga terbentuk atau masih dalam keadaan vakum total.

Ketiadaan organisasi yang seharusnya menjadi jembatan utama aspirasi mahasiswa ini mulai memicu kegelisahan di kalangan sivitas akademika. Banyak pihak menilai, kekosongan struktur ini bisa menjadi batu sandungan serius, bahkan mengancam penilaian akreditasi institusi kampus ke depannya.

Sebagai lembaga penyalur aspirasi, kritik, dan kreativitas mahasiswa, absennya BEM menciptakan ruang hampa dalam dinamika kampus. Mahasiswa merasa tidak memiliki wakil resmi yang bisa memperjuangkan kepentingan mereka di hadapan pimpinan universitas.

“Kami merasa seperti berjalan sendiri-sendiri. Kalau ada keluhan soal fasilitas kampus, kami bingung harus melapor ke siapa yang bisa merepresentasikan seluruh mahasiswa secara resmi,” ungkap salah seorang mahasiswa semester akhir yang enggan disebutkan namanya.

Memang, kegiatan kemahasiswaan di tingkat bawah seperti Himpunan Mahasiswa (HIMA) di setiap Program Studi masih berjalan. Namun, ruang gerak mereka terbatas hanya pada lingkup jurusan masing-masing. Padahal, dengan statusnya sebagai universitas yang memiliki 5 fakultas dan 19 program studi, keberadaan struktur organisasi kemahasiswaan di tingkat pusat sangatlah mutlak diperlukan agar tidak ada aspirasi yang terputus.

Bukan sekadar soal kelengkapan administrasi, dampak dari kekosongan ini dinilai sangat sistemik. Mulai dari tersendatnya saluran penyampaian aspirasi terkait transparansi biaya UKT, pemerataan fasilitas belajar, hingga risiko nyata berkurangnya poin penilaian dalam borang akreditasi BAN-PT. Dalam instrumen penilaian akreditasi institusi, indikator tata kelola kemahasiswaan memiliki bobot nilai yang cukup besar. Jika struktur ini tidak ada, kredibilitas dan nilai akreditasi kampus taruhannya, yang pada akhirnya akan merugikan seluruh alumni yang telah menyandang ijazah Universitas Merangin.

Pihak Kampus Berjanji Tahun Ini Selesai

Menanggapi kritik dan kekhawatiran tersebut, Pejabat Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Universitas Merangin, Dr. Ali Basroh M.Pd, mengakui secara jujur bahwa hingga saat ini BEM belum terbentuk. Ia tidak menampik pentingnya keberadaan organisasi tersebut, dan berjanji akan segera memfasilitasi pembentukannya.

“Betul, sampai saat ini kita masih belum memiliki BEM karena terkendala beberapa hal. Namun mengingat keberadaan BEM sangat penting sebagai wadah representasi mahasiswa dan mitra strategis rektorat, dalam waktu dekat kami akan memulai proses pembentukannya,” ujar Dr. Ali Basroh saat dikonfirmasi, Jumat (22/05/2026).

Menurut penjelasannya, keterlambatan pembentukan ini disebabkan oleh padatnya agenda pengembangan kampus pasca penggabungan dua lembaga pendidikan tinggi sebelumnya, yaitu STKIP YPM Bangko dan STIH YPM Bangko di bawah naungan Yayasan Pendidikan Merangin. Banyak hal prioritas lain yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum menyentuh aspek organisasi kemahasiswaan.

“Banyak agenda prioritas yang harus diselesaikan lebih dulu. Namun saya tegaskan, tahun ini pembentukan BEM akan segera kita realisasikan. Terima kasih atas semua dukungan dan kritikan dari pihak yang peduli dengan kemajuan kampus ini,” tegasnya.

Mahasiswa Pesimis: ‘Jangan Bermimpi, Kampus Takut Gerakan Mahasiswa’

Di sisi lain, pernyataan rektor tersebut justru menuangkan reaksi skeptis dari kalangan mahasiswa. Bagi mereka, janji pembentukan BEM hanyalah alasan klasik yang selama ini dikemukakan pihak kampus.

Beberapa mahasiswa yang ditemui mengaku yakin bahwa pihak kampus sebenarnya tidak memiliki niat sungguh-sungguh untuk membentuk BEM. Bahkan, mereka menilai para pimpinan kampus, termasuk Plt Rektor maupun rektor baru yang akan datang, tidak berani mewujudkannya karena adanya tekanan dari pihak yayasan.

“Itu cuma alasan kampus saja. Dari dulu memang tidak ada niat membentuk BEM. Plt Rektor saja tidak berani, apalagi nanti ada rektor baru terpilih, pasti juga tidak akan berani. Kami tahu gaya omongan saja, tapi mentalnya takut tekanan yayasan,” ujar salah satu mahasiswa dengan nada kecewa.

Mahasiswa tersebut bahkan berpendapat, kekhawatiran utama pihak pengelola kampus adalah munculnya gerakan mahasiswa yang kritis jika BEM terbentuk.

“Siapapun rektornya, mentalnya tetap sama. Mahasiswa jangan banyak bermimpi, kampus ini akan tetap tanpa BEM seumur hidup. Mungkin para pengurus yayasan dan kampus takut kalau BEM terbentuk, nanti mahasiswa berani bersuara dan bergerak,” tandasnya.

Hingga kini, janji dan realitas masih menjadi dua hal yang berbeda di Universitas Merangin. Mahasiswa berharap tahun 2026 ini menjadi titik terang, atau kekhawatiran bahwa kampus akan terus berjalan tanpa suara resmi mahasiswa akan menjadi kenyataan pahit yang tak terelakkan.

LAPORAN : RUDY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *